Krisis Ekologi Nusantara: Bencana Alam Meningkat Saat Alam Rusak

Tinjauan kritis kondisi geologi dan hidrometeorologi yang memperlihatkan dampak nyata eksploitasi lahan dan minimnya mitigasi bencana masyarakat

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 17 Juli 2025 - 10:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi tembok rumah warga pascagempa berkekuatan M5.0 yang mengguncang Poso, Sulawesi Tengah. (Dok. BPBD Kabupaten Poso)

Kondisi tembok rumah warga pascagempa berkekuatan M5.0 yang mengguncang Poso, Sulawesi Tengah. (Dok. BPBD Kabupaten Poso)

KETIKA jarum jam hampir menunjuk pukul delapan malam pada Senin 14 Juli 2025, bumi Poso bergetar seakan mengguncang kesadaran manusia atas rapuhnya daratan.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 087815557788.

Gempa berkekuatan magnitudo 5,0 menghantam kota kecil di Sulawesi Tengah itu, melontarkan warga dari rumah mereka ke halaman dan jalanan, di bawah langit yang tenang namun menyimpan ketegangan.

Sebanyak 20 kepala keluarga harus mengungsi ke rumah kerabat, atau sekadar mendirikan tenda sederhana di halaman rumah, demi menjauh dari risiko dinding yang runtuh.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan tak ada korban jiwa, sebanyak 38 rumah tercatat mengalami rusak ringan akibat getaran yang terasa hingga beberapa kilometer.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengingatkan, “Gempa bumi adalah keniscayaan geologis di wilayah Cincin Api, maka mitigasi mandiri tak pernah boleh diabaikan.”

Peneliti kegempaan dari BMKG, Daryono, melalui pernyataan resminya di laman BMKG menyebutkan, “Gempa dangkal ini merupakan akibat aktivitas sesar lokal yang kerap memicu rangkaian gempa kecil namun merata di wilayah Poso.”

Kisah para pengungsi di Poso menggambarkan fakta penting: komunitas lokal sudah mulai terbiasa menanggapi gempa tanpa kepanikan berlebih, sebuah hasil dari edukasi kebencanaan bertahun-tahun.

Banjir Manokwari: Tanggul Jebol yang Membuka Mata tentang Krisis Lingkungan Papua Barat

Sementara Poso bersiap menghadapi gempa susulan, di ujung timur Nusantara, masyarakat Kampung Mansaburi, Distrik Masni, Papua Barat, justru bergulat dengan air bah yang tak kunjung surut.

Banjir yang sudah terjadi sejak pertengahan Mei masih menyisakan genangan luas hingga pertengahan Juli, setelah tanggul darurat yang mereka bangun jebol diterjang arus deras.

Air setinggi 10 hingga 100 sentimeter kembali menenggelamkan rumah dan fasilitas ibadah warga, memaksa 215 jiwa untuk berjuang di tengah derasnya aliran lumpur.

Pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat untuk memperbaiki tanggul dan mempercepat surutnya genangan, namun banyak warga bertanya-tanya apakah ini hanya solusi jangka pendek.

Peneliti ekologi dari Universitas Papua, Yusak Rumsayor, mengungkapkan dalam sebuah wawancara: “Kerusakan hutan di hulu dan pola tata ruang yang keliru memperparah banjir yang seharusnya bisa dicegah.”

Ia melanjutkan, “Papua Barat berada di garis depan krisis ekologi, namun kesadaran untuk melindungi bentang alam belum sejalan dengan praktik pembangunan yang berkelanjutan.”

Kisah di Mansaburi adalah peringatan nyata tentang keterkaitan manusia, hutan, dan air—sebuah trilogi ekosistem yang tak bisa dipisahkan dan wajib dijaga.

Karhutla Sumatra dan Riau: Lahan Terbakar yang Menggugah Kepedulian terhadap Udara Bersih

Di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Riau, bencana lain diam-diam menyulut udara kering musim kemarau: api melahap lahan gambut dan semak belukar tanpa ampun.

BPBD melaporkan karhutla di Nagari Andaleh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, sudah membakar sedikitnya tiga hektar lahan, dengan api masih menyala hingga malam.

2

Di Kabupaten Toba, Sumatra Utara, api menjilat hutan di Desa Silalahi Pagar Batu, menghanguskan empat hektar lahan, dengan tantangan medan yang terjal membuat pemadaman berjalan lambat.

Riau tak luput dari jilatan api, dengan tambahan delapan hektar lahan terbakar pada Selasa 15 Juli, tersebar di Kabupaten Rohil dan Bengkalis, yang terkenal dengan lahan gambut rentan terbakar.

“Pemadaman dilakukan secara kombinasi, dengan personel darat dan pendinginan udara di titik panas, namun perubahan iklim memperpanjang musim kering sehingga risiko meningkat,” jelas Kepala BPBD Riau dalam rilis resminya di laman Pemprov Riau.

Fenomena karhutla ini adalah cermin dari degradasi ekosistem yang diperparah praktik pembukaan lahan tidak ramah lingkungan, yang pada akhirnya menurunkan kualitas udara bahkan lintas negara.

Laporan terbaru dari World Resources Institute Indonesia menegaskan bahwa pemantauan hotspot melalui satelit menunjukkan tren kenaikan signifikan titik api di Sumatra dan Kalimantan sejak awal Juni.

Waspada, Mitigasi, dan Edukasi: Pilar Ketahanan Masyarakat terhadap Bencana Alam

Indonesia berdiri di persimpangan dua realitas: kekayaan alam yang luar biasa dan risiko bencana yang nyaris permanen, dari gempa bumi hingga kebakaran hutan.

Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah sangat menentukan apakah peristiwa bencana menjadi tragedi besar atau sekadar gangguan kecil yang bisa cepat diatasi.

Abdul Muhari menegaskan dalam keterangan BNPB, “Setiap individu memiliki peran dalam mitigasi bencana, mulai dari menyusun rencana evakuasi hingga memahami risiko lingkungan sekitar.”

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Pendidikan kebencanaan yang konsisten di sekolah-sekolah, pelatihan simulasi evakuasi di desa-desa, serta pemahaman risiko iklim menjadi bagian penting dari strategi ketahanan bangsa.

Bencana adalah guru yang kejam namun efektif—mengajarkan kita untuk lebih rendah hati terhadap alam, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih bijak dalam merencanakan masa depan.

Misi Konservasi dan Kesadaran Lingkungan: Warisan bagi Generasi Mendatang

Tulisan ini tak hanya sekadar menyampaikan berita bencana, melainkan juga mengingatkan kita akan misi besar: menjaga bumi Nusantara tetap lestari bagi anak cucu.

Perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, dan tata ruang yang abai pada ekologi telah membuat bumi rapuh, yang hanya bisa pulih dengan kolaborasi semua pihak.

Setiap pohon yang ditebang sembarangan, setiap lahan yang dibakar tanpa kendali, dan setiap tanggul yang dibiarkan rapuh, adalah hutang yang diwariskan pada generasi mendatang.

Media ini percaya, melalui edukasi, inspirasi, dan aksi nyata, masyarakat Indonesia bisa menjadi garda depan dalam pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana.

Seperti pepatah bijak orang Minang: Alam takambang jadi guru—alam yang terhampar luas adalah guru yang sabar, tetapi hanya bagi mereka yang mau belajar.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infoemiten.com dan Panganpost.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Infoseru.com dan Poinnews.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Jatengraya.com dan Hallobandung.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

 

Berita Terkait

Lewotobi Meletus 5 Kali dalam 6 Jam, Abu Tebal Kepung Flotim
Berita ini 5 kali dibaca
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Kamis, 17 Juli 2025 - 10:44 WIB

Krisis Ekologi Nusantara: Bencana Alam Meningkat Saat Alam Rusak

Kamis, 19 Juni 2025 - 09:41 WIB

Lewotobi Meletus 5 Kali dalam 6 Jam, Abu Tebal Kepung Flotim

Berita Terbaru

Foto : Panggung Penutupan FORNAS VIII Dihentak Slank dan Artis Top. (Doc.Ist)

Entertainment

Datang dan Rasakan Euforia Penutupan FORNAS VIII Jumat Malam!

Kamis, 31 Jul 2025 - 03:36 WIB